Rempah, Bisnis yang Tak Pernah Mati

NINNA.ID-Di balik hamparan hijau tropis Nusantara, tersembunyi harta karun aromatik yang pernah membuat bangsa-bangsa Eropa berlayar ribuan mil ke timur: rempah-rempah Indonesia.

Kini, berabad-abad setelah masa kejayaan “spice trade” itu, dunia kembali menoleh ke negeri khatulistiwa ini—bukan karena emas, melainkan karena kekuatan alam yang menyehatkan.

Daya Tahan Hidup di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak 2020 ternyata membawa perubahan besar pada kebiasaan makan masyarakat global. Ketika rumah menjadi pusat aktivitas baru, dapur kembali hidup. Banyak orang mulai bereksperimen dengan rasa—dan rempah menjadi bintang utamanya.

Di Amerika Serikat, konsumsi rempah naik 50% hanya dalam beberapa bulan. Di Eropa, permintaan kunyit melonjak hingga 300%, terutama di Inggris dan Jerman.

Orang mulai percaya bahwa rempah bukan sekadar penyedap, tetapi juga penjaga daya tahan tubuh. Jahe, kunyit, kapulaga, dan cengkeh—bumbu yang dulu hanya ada di rak dapur Asia—kini menjadi bahan wajib di rumah-rumah Eropa dan Amerika.

[caption id="attachment_36291" align="alignnone" width="600"]Spices Some spices from Indonesia photo taken from internet[/caption]

Jejak Kejayaan yang Terulang

Sejarah mencatat, sejak abad ke-16, rempah membawa kekayaan dan perebutan kekuasaan ke Nusantara.

Kini, di abad ke-21, rempah kembali membawa harapan—bukan perang, melainkan peluang ekonomi hijau dan berkelanjutan.

Menurut data Kementerian Perdagangan RI, ekspor rempah Indonesia pada 2019 mencapai US$ 643,4 juta, naik 2,84% dibanding tahun sebelumnya. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar (22,4%), disusul India, Vietnam, dan China.

Namun, potensi sebenarnya jauh lebih besar. Nilai pasar global rempah pada 2019 mencapai US$ 13,77 miliar, dan diprediksi tumbuh 6,3% per tahun hingga 2027.

Dunia bukan hanya mencari rasa baru, tapi juga asal-usul dan cerita di balik setiap rempah—dan di sanalah Indonesia punya kekuatan otentik.

Dari Petani ke Pabrik Modern

Kebangkitan rempah Indonesia tak lepas dari peran industri pengolahan dan ekspor yang terus beradaptasi. Beberapa nama besar kini menjadi contoh bagaimana tradisi dan teknologi bisa berjalan seiring:

  • PT Supa Surya Niaga (Sidoarjo)
    Dari pedagang kecil di Surabaya, kini menjadi eksportir besar dengan fasilitas berstandar internasional FSSC 22000. Produk mereka, mulai dari lada hingga cengkeh, menembus pasar Eropa dan Amerika.
  • PT Sumber Inti Pangan (Banten)
    Memiliki lebih dari 500 jenis produk seasoning dan bumbu instan. Mereka memadukan riset, inovasi rasa, dan rantai pasok berkelanjutan dari petani lokal.
  • CV Multi Rempah Sulawesi (Bitung)
    Mengelola 6.000 petani di 5.000 hektare lahan dan mengekspor produk organik bersertifikasi Uni Eropa. Dari Sulawesi hingga Moluccas, mereka membangun sistem pertanian yang ramah iklim.
  • CV Natraco Spices Indonesia (Padang)
    Pelopor ekspor kayu manis (cassia) dari Gunung Kerinci ke Amerika dan Eropa, dengan sertifikasi ISO 9001 dan standar ASTA. Mereka menjaga kemitraan turun-temurun dengan petani, memastikan setiap kulit kayu yang dikirim membawa aroma tanah Sumatra.

Investasi Asing

Potensi besar ini juga menarik investor dunia. Salah satunya, Verstegen Spices & Sauces BV, perusahaan asal Belanda—yang dulunya bagian dari VOC—kembali ke Indonesia bukan untuk menaklukkan, tapi untuk menanam.

Mereka membuka kebun pala seluas 40.000 hektare di Papua, melibatkan 50.000 petani lokal. Sebuah simbol sejarah yang berbalik arah: dari kolonialisasi menjadi kolaborasi.

Rasa, Budaya, dan Identitas Bangsa

Rempah adalah bahasa universal yang menghubungkan cita rasa dan budaya. Dalam setiap butir lada, setiap irisan jahe, tersimpan identitas dan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Kini, dunia modern menuntut rempah bukan hanya enak, tapi juga traceablehalal, dan sustainable. Inilah tantangan bagi Indonesia: bagaimana menjual cerita dan nilai, bukan sekadar komoditas.

Rempah Indonesia harus tampil sebagai brand global—sebagai rasa yang jujur, sehat, dan lahir dari tanah yang penuh kehidupan.

Dari Dapur ke Dunia

Dulu rempah membuat bangsa-bangsa berlayar mencari “surga di timur.” Kini, saat dunia mencari makna baru di tengah krisis, Indonesia punya jawabannya: rempah sebagai simbol keseimbangan antara manusia dan alam.

Jika dahulu kapal-kapal VOC berlayar menuju Maluku untuk mencari cengkeh, hari ini dunia justru menunggu produk-produk kita datang membawa harapan baru: rasa, kesehatan, dan keberlanjutan.

Rempah bukan lagi nostalgia masa lalu. Ia adalah masa depan Indonesia.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

Comments

Popular posts from this blog

Candle Nut From Lake Toba

Famous Spices in Indonesia Can Also be Found in the Lake Toba Area

Kemiri Girsang: Dari Kampung Kecil untuk Dunia